Pelet Kayu dan Masa Depan Energi Terbarukan: Inovasi dan Tantangan 2025

pellet kayu
Negara Jepang dan Korea Selatan adalah konsumen produk pelet kayu dari Indonesia

Dalam beberapa tahun terakhir, industri pelet kayu mengalami pertumbuhan pesat seiring meningkatnya permintaan global akan sumber energi terbarukan. Pelet kayu kini menjadi solusi alternatif yang ramah lingkungan untuk sektor energi, terutama di negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Eropa.

Industri pelet kayu diperkirakan akan semakin berkembang di tahun 2025, didorong oleh meningkatnya kebutuhan energi bersih dan upaya global untuk mengurangi emisi karbon. Indonesia sebagai salah satu produsen utama memiliki peluang besar untuk mendominasi pasar ekspor.

Bagaimana prospek bisnis pelet kayu di tahun ini? Dan apa peran Indonesia dalam tren global ini?


Peningkatan Volume Ekspor Pelet Kayu

Pada tahun 2024, pasar ekspor pelet kayu dari Indonesia mengalami pertumbuhan, dengan nilai total ekspor mencapai $17 juta dolar. Hasil tersebut mengakhiri tren penurunan yang telah terjadi selama dua tahun sebelumnya.

Ekspor pelet kayu dari Sulawesi saja misalnya, tercatat telah mengekspor lebih dari 200 ribu metrik ton pelet kayu ke Jepang dan Korea Selatan selama tahun 2023 dan 2024. Volume tersebut hampir setara dengan nilai sekitar US$30 juta, yang artinya rata-rata nilai ekspor per tahunnya mencapai US$15 juta, lebih dari 80% dari nilai ekspor Indonesia.


Proyeksi Permintaan Pelet Kayu Global

Lembaga think-tank Trend Asia memprediksi bahwa permintaan global untuk pelet kayu akan mencapai 36 juta ton pada tahun 2034, meningkat dari 14 juta ton pada tahun 2017. Negara-negara seperti Inggris, Denmark, Korea Selatan, dan Jepang diperkirakan akan menjadi konsumen utama pelet kayu ini.


Pembangunan Pabrik Pelet Kayu di Pulau Jawa

Beberapa perusahaan telah merencanakan dan membangun beberapa pabrik pelet kayu di Pulau Jawa, khususnya provinsi Jawa Tengah. Salah satu pabrik yang memiliki lahan seluas kurang lebih 4 hektar biasanya memiliki kapasitas produksi lebih dari 50 ribu ton per tahun.

Hal tersebut diharapkan dapat mendukung pertumbuhan ekspor pelet kayu Indonesia dan memenuhi kebutuhan energi berkelanjutan secara global. Dan diharapakan juga mampu berperan meningkatkan perekonomian masyarakat lokal dengan memanfaatkan bahan baku dari wilayah setempat.


Tantangan Terhadap Kepedulian Lingkungan

Ekspansi industri pelet kayu telah memicu kekhawatiran lingkungan yang signifikan. Beberapa laporan menunjukkan bahwa untuk memenuhi permintaan biomassa domestik dan internasional, sebagian besar hutan asli Indonesia ditebang, yang menyebabkan penggundulan hutan dan hilangnya keanekaragaman hayati.

Pakar lingkungan memperingatkan bahwa praktik ini tidak hanya membahayakan ekosistem tetapi juga melepaskan lebih banyak karbon daripada yang diserapnya, sehingga merusak upaya untuk memerangi perubahan iklim.

Menanggapi kekhawatiran ini, para pembuat kebijakan Korea Selatan telah menyerukan penyelidikan terhadap dampak lingkungan dari impor biomassa yang mereka impor dari negara yang dianggap memiliki risiko tinggi terhadap kerusakan lingkungan. Produksi pelet kayu memang bisa dikaitkan dengan penggundulan hutan walaupun belum tentu signifikan, namun situasi tersebut memicu beberapa perdebatan

(Dari berbagai sumber)

tentangkayu

Mari Belajar dan Berkembang Bersama Kami

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama